PJJ Banyak Memakan Korban Jiwa, Pengamat : Perlu Adanya Bimbingan Konseling

Memasuki bulan kedelapan pandemi Covid-19 di Indonesia, sebagian besar sekolah masih melakukan kegiatan belajar di rumah mengikuti arahan pemerintah yang disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Meski telah cukup lama menerapkan PJJ , kendala masih kerap didapati di lapangan. Utamanya terkait fasilitas, jaringan, sampai keadaan psikologis siswa, guru, maupun orang tua.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat menyinggung bahwa PJJ punya banyak dampak buruk terhadap siswa yang bisa melekat secara permanen. Yang paling ia khawatirkan adalah potensi ancaman putus sekolah dan tekanan psikologis.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai peran guru bimbingan konseling seharusnya diutamakan untuk mencegah dan menanggulangi dampak buruk PJJ terhadap psikologis anak.

Namun, menurutnya, hal ini belum maksimal dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun institusi pendidikan selama tujuh bulan terakhir.

Menurut pantauan Ubaid, masih banyak sekolah yang memiliki guru bimbingan konseling dengan latar belakang bukan di bidang psikologi. Beberapa sekolah bahkan belum mempunyai guru bimbingan konseling.

Kalaupun memiliki guru bimbingan konseling yang mumpuni, lanjutnya, kebanyakan pendekatan psikologis baru dilakukan ketika siswa sudah mengalami permasalahan atau sudah menjadi korban.

Maka diharapkan pihak sekolah dan dinas pendidikan terkait dapat memberikan perhatian khusus terhadap PJJ yang berdampak pada siswa.

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes
Share
0 Comments

No Comment.