Kurikulum Prototipe Bukan Kurikulum Wajib, Melainkan Kurikulum Pemulihan Pasca Pandemi

Kurikulum prototipe menjadi salah satu alternatif kurikulum pemulihan pasca pandemi sekaligus sebagai kurikulum pilihan bukan kewajiban.

Diadakannya kurikulum prototipe ini dikarenakan adanya banyak siswa yang memiliki pola maupun kemampuan belajarnya berubah sejak masa pandemi. Selain itu juga karena masih rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Pada dasarnya, kurikulum prototipe disajikan dengan beberapa perbedaan dari kurikulum sebelumnya. Pada jenjang SD, sekolah dapat memilih pendekatan yang akan digunakan tidak hanya menggunakan pendekatan tematik. Kemudian pada jenjang SMP, mata pelajaran Teknologi Informatika yang awalnya menjadi mata pelajaran pilihan namun kini pada kurikulum prototipe menjadi pelajaran wajib. Lalu pada jenjang SMA, tidak ada lagi penjurusan namun siswa bisa memilih mapel pilihan dari kelas XI. Sedangkan untuk jenjang SMK, terdapat peningkatan kapasitas pembelajaran kejuruan dan untuk SLB capaian pembelajaran khusus hanya digunakan untuk siswa dengan hambatan intelektual.

Kurikulum prototipe ini sudah digunakan oleh sekolah penggerak dan pada tahun 2022 boleh digunakan sebagai alternatif di sekolah non penggerak. Adopsi kurikulum ini dapat dilakukan dengan berbagai pilihan diantaranya melalui pelatihan terlebih dahulu baru penerapan atau boleh sekaligus pelatihan dan praktik penerapan. Namun sekolah juga harus menyesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

Kebijakan penggunaan kurikulum prototipe ini tentu juga diimbangi oleh kebijakan lainnya. Dimana sekolah yang sudah menggunakan kurikulum prototipe, gurunya akan tetap mendapatkan tunjangan profesi.

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes
Share
0 Comments

No Comment.